Kemungkinan Bahlil Maju Pilpres 2029, Analis Sebut Sangat Mustahil
Oleh: Saiful Huda Ems
WARTAWAN BERTANYA, SHE MENJAWAB
Wartawan:
1. Beredar informasi bahwa Bahlil Lahadalia menargetkan maju Pilpres 2029 untuk berhadapan dengan Prabowo Subianto. Berbagai langkah pencitraan, termasuk mengaitkan diri dengan program Makan Bergizi Gratis, dinilai bertujuan menaikkan popularitas. Bagaimana tanggapan Anda?
2. Banyak yang menilai Bahlil paling cocok berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, baik sebagai capres-cawapres maupun sebaliknya. Apakah hal tersebut memungkinkan?
Saiful Huda Ems (SHE):
Sangat mustahil jika Bahlil Lahadalia berani maju sebagai calon presiden 2029 berhadapan dengan Prabowo Subianto, meskipun berbagai upaya pencitraan gencar dilakukan belakangan ini. Ada beberapa alasan mendasar yang membuat hal tersebut sulit terjadi.
Pertama, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektabilitas. Bahlil memang dikenal publik, namun belum tentu disukai dan dipilih. Sebagian besar masyarakat justru menilai kebijakan yang pernah diambilnya, misalnya terkait tabung gas melon, sangat merugikan rakyat kecil. Hal ini membentuk citra yang kurang menguntungkan secara politik.
Kedua, proses naiknya Bahlil sebagai Ketua Umum Partai Golkar dinilai tidak melalui mekanisme demokrasi yang sehat. Menurut pengamatan, posisinya diperoleh melalui tekanan politik yang membuat Airlangga Hartarto mundur. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan kader dari pusat hingga daerah. Dukungan internal partai menjadi lemah, sehingga sulit untuk mengusungnya sebagai calon pimpinan nasional.
Ketiga, posisi politik Bahlil sangat bergantung pada dukungan Jokowi maupun Prabowo. Sangat mustahil kedua tokoh tersebut merestui Bahlil maju menjadi capres, karena hal itu justru akan menghalangi langkah politik Gibran maupun kelompok pendukungnya.
Keempat, tekad Gibran untuk maju sebagai calon presiden 2029 dinilai sangat kuat. Ia tentunya akan mencari pendamping yang memiliki elektabilitas tinggi dan diterima secara luas. Bahlil dinilai tidak memenuhi kriteria tersebut. Selain itu, Jokowi yang dikenal sangat kalkulatif dalam politik kemungkinan besar tidak akan memilih Bahlil sebagai pendamping anaknya. Masih ada sejumlah nama lain yang dinilai lebih potensial untuk dipertimbangkan.
Kelima, situasi politik dan ekonomi nasional juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Saat ini sedang terjadi proses pengawasan dan pembongkaran dugaan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Ditambah kondisi ekonomi yang tertekan, nilai tukar rupiah melemah, daya beli menurun, dan biaya hidup yang mahal. Jika kondisi ini tidak membaik, dukungan publik terhadap penguasa bisa berubah drastis. Maka, belum tentu pada 2029 nanti tokoh-tokoh politik saat ini masih memiliki posisi yang kuat di kancah nasional.
Wallahu a'lamu bishawab.
Rabu, 10 Juni 2026
Saiful Huda Ems
Pengacara, Analis Politik, Aktivis '98
Posting Komentar