MEMPERINGATI WAFATNYA NABI MUHAMMAD SAW: MENGENANG KETELADANAN DAN WARISAN RAHMAT
Oleh:
Capt. H. Moh. Anton Hermawan Eka Putra, S.E., M.M., C.HRA., C.Med., C.BSA., C.BLS., C.SLM., C.HRM.
Pengajar & Praktisi Penerbangan & Sumber Daya Manusia
Pemimpin Media transformasinusa.com | Pendiri AHCDI
Jakarta – Setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam, umat Muslim di seluruh dunia mengenang peristiwa wafatnya Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, peringatan tersebut jatuh pada Senin, 8 Juni 2026 Masehi, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah.
Berdasarkan catatan sejarah Islam yang diakui secara umum, Nabi Muhammad SAW menghembuskan napas terakhirnya di Kota Madinah pada tahun 11 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 632 Masehi. Beliau wafat pada usia 63 tahun, dalam pangkuan istri tercinta, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar RA.
Dari perspektif ajaran Islam, kepergian beliau bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan momen untuk merenungkan pesan dan warisan yang ditinggalkan. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 30: "Sesungguhnya engkau akan mati, dan sesungguhnya mereka pun akan mati." Ayat ini mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian bagi setiap makhluk, sekaligus menjadi pengingat untuk memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya.
Sejarawan dan ahli agama menyebutkan bahwa sebelum wafat, Nabi Muhammad SAW telah menyempurnakan risalah kenabian. Beliau mewariskan dua pedoman utama bagi umatnya: Al-Qur'an sebagai firman Allah dan Sunnah sebagai contoh perilaku dan ajaran beliau. Nilai-nilai yang dibawanya—seperti kasih sayang, keadilan, kejujuran, toleransi, dan perdamaian—diakui telah memberikan pengaruh besar bagi peradaban dunia.
Peringatan wafatnya Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi momen refleksi bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi pengingat bersama tentang pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai kalangan, baik tokoh agama, masyarakat, maupun pemimpin, menyampaikan bahwa keteladanan beliau relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern, termasuk dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan perdamaian sosial.
Perlu dipahami bahwa pelaksanaan peringatan ini dapat bervariasi di berbagai daerah dan komunitas, sesuai dengan tradisi dan pemahaman masing-masing, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Sebagai penutup, peringatan ini diharapkan dapat menjadi momentum positif untuk memperkuat akhlak mulia, mempererat persaudaraan, dan mewujudkan nilai-nilai rahmat bagi seluruh alam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Posting Komentar