NEWS BREAKING NEWS
Live
wb_sunny

Breaking News

Mungki Retnosari, S.E. : Krisis Air Mulai Melanda Pekalongan, Hasil Panen Padi Merosot Jauh

Mungki Retnosari, S.E. : Krisis Air Mulai Melanda Pekalongan, Hasil Panen Padi Merosot Jauh

TRANSFORMASINUSA.COM | PEKALONGAN, 14 Juli 2026 – Memasuki pertengahan bulan Juli 2026, para petani di wilayah Kabupaten Pekalongan mulai dihantui oleh bayang-bayang krisis air. Kondisi ini memicu berbagai persoalan klasik di tingkat tapak, mulai dari penurunan kualitas hasil panen (rendemen) hingga kendala sosial dalam pengelolaan irigasi darurat.


Berdasarkan informasi yang dihimpun di Desa Watugajah, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan pada Selasa (14/07/2026), sebagian besar lahan pertanian di wilayah tersebut memang telah menyelesaikan masa panen. Namun, sebagian petani lainnya justru baru saja memulai Musim Tanam 2 (MT 2), sebuah keputusan yang cukup berisiko di tengah menyusutnya pasokan air.


Rendemen Minim Picu Harga Gabah Rp6.000

Dampak dari keterbatasan air pada fase pengisian bulir padi mulai dirasakan langsung pada nilai jual gabah. Mbak Ning, salah seorang penebas atau pembeli gabah yang bertransaksi langsung di lahan petani Desa Watugajah, mengungkapkan bahwa dirinya membeli Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani seharga Rp6.000 per kilogram.


Harga ini berada di bawah standar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) GKP yang semestinya berada di angka Rp6.500 per kilogram. Menurut Mbak Ning, rendahnya harga beli ini sangat beralasan karena kualitas bulir padi yang kurang optimal.


“Rendemen dari lingkungan tersebut rata-rata hanya berkisar antara 54 persen hingga 55 persen beras dari GKP,” jelasnya saat diwawancarai di lokasi. Rendemen yang minim ini membuat pihak penggilingan harus menekan harga beli guna menghindari kerugian operasional.


Banyak petani akhirnya memilih menjual sistem tebasan demi meminimalkan risiko. Atam, petani setempat, menceritakan lahan setengah hektarnya terjual Rp13 juta. Namun kecemasan kini beralih ke tanaman barunya yang mulai kekeringan. Rencana gotong royong pengambilan air terhambat karena kesulitan mengumpulkan warga.


Kondisi ini dikonfirmasi Ketua IP3A Kalijogo Tangguh Perwira. Ia menyebut debit air turun drastis jauh sebelum jadwal semestinya yang seharusnya aman hingga akhir Agustus. "Ujar Tangguh”.


Pemerintah harus segera turun tangan, bantu pompanisasi dan perkuat koordinasi warga agar tanaman tidak mati," tegasnya.


“Semua daerah irigasi mengalami penurunan debit data per hari ini, pemerintah mesti hadir,” ujar Tangguh.


“Semestinya, kalau sesuai jadwal, paling tidak air irigasi tersedia dengan normal hingga akhir Agustus 2026. Menurut analisis kami, ini sudah termasuk tanda-tanda kekurangan air alias krisis air. Karena air untuk sawah sudah susah didapatkan sebelum waktu yang semestinya,” tegas Tangguh”.



[ *RED* ] KIKI

TRANSFORMASINUSA NEWS

TNC GROUP CHATT ME

Kritik dan Saran bisa melalui kolom dibawah ini,Terima Kasih

Posting Komentar