Tlahab Bersholawat Puncak Rangkaian Merti Desa Tahunan,Abdul Kholiq Buktikan Janji Kampanye Lewat Penguatan Agama dan Pelestarian Budaya
TRANSFORMASINUSA.COM | TLAHAB, 10 Juli 2026 — Rangkaian kegiatan rutin tahunan Merti Desa Tlahab kembali digelar dengan penuh khidmat dan kegembiraan. Puncak acara bertajuk "Tlahab Bersholawat" yang dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Juli 2026 ini menjadi penutup sekaligus momen paling ditunggu dari serangkaian kegiatan yang sudah dirancang dan dipersiapkan secara matang oleh segenap warga selama satu tahun penuh.
Majelis umum yang diselenggarakan dalam bingkai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ini merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi tahunan desa. Dalam satu periode penyelenggaraan, Merti Desa Tlahab dikemas dalam satu tema besar Bahurekso Fest, yang di dalamnya memuat beragam kegiatan mulai dari pameran dan pesta gunungan hasil panen desa sebagai wujud rasa syukur atas melimpahnya rezeki pertanian, kesenian tradisional, hingga puncaknya doa bersama dalam acara Tlahab Bersholawat yang dihadiri ribuan warga dari desa setempat maupun wilayah sekitar. Semua disusun sedemikian rupa agar nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap terjaga dan bisa terus dinikmati serta dirasakan manfaatnya secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sosok yang menjadi penggerak utama di balik berjalannya seluruh rangkaian kegiatan ini secara berkelanjutan adalah Kepala Desa Tlahab Abdul Kholiq. Bagi warga, nama ini kini sudah sangat melekat dengan upaya-upaya nyata memajukan desa di dua sisi utama sekaligus: sisi keagamaan dan sisi kebudayaan. Latar belakang perjalanan hidupnya sendiri sesungguhnya sudah menjadi gambaran kuat bagaimana sosok ini dibentuk: ia dikenal sebagai putra dari seorang kyai yang sangat dihormati, pernah mengabdi sebagai guru madrasah, aktif bergerak di organisasi kepemudaan Ansor, dan juga memiliki pengalaman panjang berusaha sebagai pelaku wiraswasta.
Namun di awal masa pencalonan dan sesaat setelah dilantik, kepercayaan warga belum sepenuhnya ada. Keraguan justru muncul karena faktor usia yang saat itu terbilang masih sangat muda untuk memegang tampuk kepemimpinan desa. Banyak warga yang bertanya-tanya dalam hati, apakah pemuda dengan latar belakang seperti itu sanggup mengurus desa, sanggup merawat tradisi tua yang sudah berjalan turun-temurun, dan sanggup memenuhi apa yang disampaikannya saat masa kampanye.
Waktu yang kemudian menjawab semuanya. Bertahun-tahun memimpin, Abdul Kholiq membuktikan satu hal tegas: apa yang disampaikannya di atas panggung kampanye bukanlah sekadar janji manis semata. Kegiatan bernuansa keagamaan benar-benar dijalankan secara rutin dan diagendakan setiap tahun tanpa terputus. Di sisi lain, nilai-nilai budaya dan warisan leluhur desa terus digaungkan, diperkenalkan kembali kepada generasi muda, dijaga kelestariannya, dan dikemas sedemikian rupa agar tetap relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas sampai kapan pun. Kinerjanya yang konsisten dan apa adanya lambat laun mengubah keraguan warga menjadi kekaguman, karena apa yang dilakukan di lapangan ternyata jauh melampaui apa yang sempat dibayangkan banyak orang sebelumnya.
Namun saat ditemui dan diwawancarai di sela-sela kesibukan acara Tlahab Bersholawat, nada bicara Kepala Desa justru terdengar sangat rendah hati dan jauh dari kesan merasa sudah berhasil atau sudah paling memuaskan semua pihak. Dengan tegas ia menyampaikan bahwa hingga detik ini pun ia sama sekali belum merasa yakin dan belum merasa puas atas apa yang telah dikerjakannya selama ini bagi warganya. Baginya, jabatan sebagai kepala desa membawa tanggung jawab yang sangat besar dan amat panjang, sehingga menurut pengakuannya sendiri, masih sangat banyak hal dan tugas yang harus diselesaikan, masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, dan masih banyak cita-cita desa yang harus diwujudkan bersama-sama.
"Bagi saya, apa yang sudah berjalan ini baru sebagian kecil dari apa yang seharusnya menjadi kewajiban seorang pemimpin. Saya sama sekali tidak berani mengatakan bahwa saya sudah memuaskan seluruh masyarakat, karena sejujurnya di dalam hati saya sendiri pun saya belum merasa puas. Masih sangat banyak pekerjaan rumah, masih banyak tugas dan tanggung jawab yang harus saya kerjakan sebaik-baiknya demi Desa Tlahab," ungkap Abdul Kholiq singkat namun penuh makna.
Dengan semangat yang terus dijaga, tradisi Merti Desa, Bahurekso Fest, Pesta Gunungan Hasil Panen hingga Tlahab Bersholawat diyakini akan terus berlanjut dari tahun ke tahun. Bukan sekadar seremoni rutin belaka, melainkan bukti nyata bahwa kepemimpinan yang berakar dari ketulusan, kecintaan pada agama dan rasa hormat tinggi pada budaya leluhur, mampu menyatukan hati masyarakat meski di awal sempat diwarnai keraguan semata karena faktor usia.
[ RED ] KIKIE

Posting Komentar