Menko AHY Tinjau Lokasi Kali Prancis di Benda Tangerang,Percepat Mitigasi Banjir Jelang Musim Hujan 2027

TRANSFORMASINUSA.COM | TANGERANG – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau langsung kondisi Kali Prancis dan anak Kali Prancis di kawasan Tangerang, Jumat (6/11/2026). Peninjauan tersebut dilakukan sebagai langkah konkret pemerintah dalam memperkuat mitigasi dan mengantisipasi ancaman banjir yang selama ini kerap mengganggu aktivitas masyarakat serta akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Kunjungan tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan lintas wilayah dan instansi, di antaranya Gubernur Banten Andra Soni, Wali Kota Tangerang Sachrudin, Bupati Tangerang Mochammad Maesyal Rasyid, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait. Turut hadir unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, Jasa Marga, pengelola bandara, dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
BANJIR BERULANG ANCAM MOBILITAS DAN AKTIVITAS EKONOMI
Dalam keterangannya, AHY menegaskan bahwa persoalan banjir di kawasan Kali Prancis harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun daerah. Pasalnya, dampak banjir tidak hanya mengancam permukiman masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu konektivitas transportasi, aktivitas ekonomi, hingga operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Menurut AHY, persoalan tersebut semakin kompleks karena kawasan aliran Kali Prancis berkaitan dengan sejumlah wilayah administratif, yakni Provinsi Banten, DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, hingga Jakarta Barat.
Ia mengungkapkan, banjir yang berulang setiap Januari dalam beberapa tahun terakhir telah mengganggu mobilitas masyarakat. Bahkan, pada Januari 2026, dampak banjir tercatat memengaruhi lebih dari 150 penerbangan dengan tingkat penundaan mencapai sekitar 20 persen.
"Ini berpengaruh pada on-time performance, pada kelancaran penerbangan kita, dan tentunya akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan," ujar AHY.
NORMALISASI SUNGAI DAN PENGERAHAN POMPA JADI PRIORITAS
Sebagai langkah penanganan, pemerintah mulai mempercepat normalisasi Kali Prancis dan anak sungainya. Salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah tingginya sedimentasi dan pendangkalan yang menyebabkan kapasitas sungai dalam menampung serta mengalirkan debit air semakin berkurang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mengerahkan sejumlah ponton yang dilengkapi alat berat berupa ekskavator guna melakukan pengerukan sedimentasi. Langkah ini diharapkan mampu mengembalikan kapasitas aliran sungai dan mengurangi risiko luapan air ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Namun demikian, AHY menegaskan bahwa normalisasi sungai tidak dapat menjadi satu-satunya solusi. Diperlukan langkah terpadu melalui peningkatan kapasitas saluran drainase, pengoperasian pompa air, serta pembangunan infrastruktur penampungan air.
Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah pompa dengan berbagai jenis, mulai dari pompa stasioner (stationary), submersible, hingga pompa bergerak (mobile), untuk mempercepat penanganan apabila terjadi genangan.
TITIK RAWAN GENANGAN JADI PERHATIAN KHUSUS
Dalam peninjauan tersebut, AHY turut menyoroti sejumlah titik rawan genangan di sekitar kilometer 31 dan kilometer 33, termasuk kawasan depan Hotel POP.
Di lokasi tersebut terdapat sejumlah saluran crossing, inlet, dan outlet yang dinilai membutuhkan peningkatan kapasitas agar aliran air dapat berjalan lebih optimal dan tidak menimbulkan hambatan ketika debit air meningkat.
AHY juga menekankan pentingnya normalisasi anak Kali Prancis secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan sungai utamanya. Hal tersebut diperlukan agar penanganan di satu wilayah tidak justru memindahkan atau menimbulkan persoalan banjir di wilayah lainnya.
PEMBANGUNAN KOLAM RETENSI 3,4 HEKTARE MASIH TERKENDALA LAHAN
Selain normalisasi sungai, pemerintah tengah menyiapkan rencana pembangunan kolam retensi di atas lahan seluas kurang lebih 3,4 hektare. Infrastruktur tersebut diproyeksikan menjadi tempat penampungan sementara limpasan air hujan sehingga dapat mengurangi beban sungai dan saluran drainase.
Meski demikian, realisasi pembangunan kolam retensi masih menghadapi tantangan, terutama menyangkut pembebasan dan kejelasan status lahan.
AHY menyampaikan bahwa pembahasan terkait rencana tersebut terus dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar persoalan administrasi maupun ketersediaan lahan dapat segera menemukan solusi.
"Untuk kolam retensi tadi, ini sedang dibahas, duduk bersama antara Pemprov DKI Jakarta dengan Pemerintah Provinsi Banten. Melibatkan semua, tentunya memang cukup kompleks selalu berurusan dengan lahan," jelasnya.
AHY berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan sehingga pembangunan kolam retensi dapat direalisasikan sebagai bagian dari strategi pengendalian banjir jangka menengah.
AHY INGATKAN PENTINGNYA TATA RUANG DAN KESEIMBANGAN LINGKUNGAN
Di sisi lain, AHY mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur pengendalian banjir harus tetap memperhatikan tata ruang dan keseimbangan lingkungan.
Menurutnya, kebijakan pembangunan tidak boleh mengabaikan fungsi kawasan sebagai daerah resapan maupun tampungan air. Ketidaksesuaian pemanfaatan ruang berpotensi memperburuk persoalan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana.
"Tata ruang itu harus menjadi panglima dalam pembangunan. Artinya, jangan sampai kita membangun-membangun, kita mengabaikan tata ruang termasuk keseimbangan lingkungan. Ini akan merusak dan pada akhirnya membawa bencana buat kita semuanya," tegas AHY.
ANTISIPASI BANJIR JELANG NATARU DAN PUNCAK MUSIM HUJAN
Untuk mengantisipasi potensi genangan yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah darurat menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Jasa Marga telah menyiapkan dan mengerahkan sejumlah pompa air. Sementara itu, pengelola Bandara Soekarno-Hatta akan melakukan normalisasi saluran air, termasuk di kawasan Sungai Dadap.
Melalui Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah juga menyiapkan peralatan pendukung berupa sandbag atau karung pasir serta pompa yang dapat segera dikerahkan apabila terjadi genangan.
"Melalui Kementerian PU kita siapkan tadi sandbag, kemudian alat-alat yang dibutuhkan, pompa yang cepat agar kalau terjadi genangan sedikit langsung ditangani supaya tidak lebih buruk lagi," ungkap AHY.
WALI KOTA TANGERANG: PENANGANAN BANJIR HARUS DILAKUKAN SECARA BERSAMA
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Sachrudin menegaskan bahwa penanganan banjir di kawasan Kali Prancis tidak dapat dibebankan kepada satu pemerintah daerah saja.
Menurutnya, karakteristik aliran sungai dan dampak genangan yang melintasi sejumlah wilayah administratif membutuhkan koordinasi serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota.
"Penanganan banjir ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, satu daerah saja, tetapi membutuhkan kolaborasi, baik dengan daerah, kabupaten, provinsi, maupun pemerintah pusat," ujar Sachrudin.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Tangerang juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi, salah satunya dengan menyiapkan mesin pompa air guna menghadapi potensi genangan selama musim hujan.
KOLABORASI LINTAS WILAYAH JADI KUNCI PENGENDALIAN BANJIR
Peninjauan Kali Prancis oleh Menko AHY menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi persoalan banjir yang berdampak terhadap kawasan Tangerang dan sekitarnya.
Normalisasi sungai, peningkatan kapasitas drainase, penyediaan pompa air, pembangunan kolam retensi, serta pembenahan tata ruang menjadi rangkaian strategi yang harus dijalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Masyarakat tentunya berharap langkah konkret pemerintah tersebut tidak berhenti sebatas peninjauan dan koordinasi, melainkan diwujudkan melalui percepatan pekerjaan di lapangan, penyelesaian persoalan lahan, serta pengawasan pelaksanaan program secara konsisten.
Dengan demikian, risiko banjir dapat ditekan, keselamatan dan kenyamanan masyarakat lebih terjamin, serta kelancaran akses menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan aktivitas perekonomian di kawasan Tangerang dapat terus terjaga.
TRANSFORMASINUSA.COM
Akurat – Terpercaya – Profesional




Posting Komentar