Ketum Pendowo 08 Gus Imam Susanto Tekankan Peran Strategis Program Makan Bergizi Gratis dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia
TRANSFORMASINUSA COM | Jakarta dalam pemaparan yang disampaikan secara terbuka melalui pesan singkat, Gus Imam Susanto, Ketua Umum Pendowo 08, menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif strategis yang jauh melampaui sekadar pemberian makanan. Ia menyebut, inisiatif ini merupakan langkah nyata dalam memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, terutama generasi muda yang akan menjadi tumpuan pembangunan nasional di masa mendatang (26/2)2026).
Memaknai Program sebagai Investasi Jangka Panjang
Gus Imam menyoroti bahwa pembangunan bangsa tidak hanya terwujud dari pembangunan infrastruktur fisik seperti gedung sekolah dan fasilitas umum lainnya, melainkan juga melalui peningkatan kualitas dan kesehatan anak-anak sebagai penerus masa depan bangsa. Ia menyatakan, “Bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi memastikan anak-anaknya tumbuh dengan gizi yang cukup dan seimbang.” Ia menegaskan bahwa masalah gizi merupakan isu strategis yang harus menjadi prioritas bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam kerangka pembangunan manusia.
Dalam pandangannya, program MBG harus dilihat sebagai sebuah investasi jangka panjang yang akan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Anak-anak yang mendapatkan gizi optimal, menurutnya, memiliki potensi lebih besar untuk belajar, berkembang secara optimal, dan berkompetisi secara internasional di masa depan.
Mengatasi Tantangan Gizi dan Kesiapan Belajar anak
Gus Imam mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah kondisi kesiapan anak-anak untuk mengikuti pembelajaran di sekolah. Meskipun kebijakan sekolah gratis telah berjalan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak datang ke sekolah dalam kondisi tidak siap belajar akibat kekurangan nutrisi dan kelaparan akut yang tidak teratasi. Sebagian anak bahkan berangkat ke sekolah tanpa sarapan, atau mereka menahan lapar agar tetap bisa mengikuti pelajaran.
Ia menyoroti bahwa kondisi ini menyebabkan anak-anak sulit fokus, kurang energi, dan akhirnya mengorbankan aspek akademik serta perkembangan sosial-emosionalnya. Inilah mengapa MBG harus dipandang sebagai solusi strategis yang mampu memperbaiki kondisi tersebut secara nasional, bukan sekadar program pencitraan. Melalui pemberian gizi yang cukup, anak-anak diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi, stamina, dan daya tahan mereka selama proses belajar berlangsung.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Sosial
Lebih jauh, Gus Imam menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya berdampak pada aspek edukasi semata, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang luas. Program ini membuka peluang kerja bagi ahli gizi, tenaga kesehatan, serta menggerakkan sektor pertanian, peternakan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pangan. Kondisi ini menstimulasi roda ekonomi dari tingkat akar rumput, memastikan uang negara berputar di masyarakat, dan mengurangi disparitas ekonomi yang selama ini menjadi tantangan pembangunan nasional.
Ia menambahkan, “MBG adalah bagian dari strategi pembangunan manusia, yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan merangsang pertumbuhan industri lokal di sektor pertanian dan pangan.” Dengan demikian, program ini diharapkan dapat membantu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat.
Kritik dan Pendekatan Data
Menghadapi sejumlah kritik yang muncul terkait efektivitas dan pengelolaan program MBG, Gus Imam mengingatkan pentingnya penggunaan data yang akurat dan valid dalam menilai keberhasilan program ini. Ia menegaskan bahwa pendekatan berbasis data menjadi kunci utama dalam menanggapi berbagai pandangan negatif, dan menegaskan komitmen pemerintah serta seluruh pihak terkait secara konsisten memonitor dan mengevaluasi program ini secara transparan.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan MBG tidak merugikan pendidikan; justru sebaliknya, berada di garis depan dalam perlindungan gizi anak-anak dan memastikan mereka mendapatkan hak dasar sebagai generasi penerus bangsa.
Pesan Pembangunan Masa Depan
Sebagai penutup, Gus Imam menyampaikan pesan optimisme dan keberpihakan terhadap anak-anak Indonesia. Ia menegaskan bahwa anak-anak adalah harapan masa depan bangsa, dan negara wajib hadir memastikan mereka tumbuh dengan kondisi yang optimal secara fisik dan mental.
“Anak-anak kita tidak butuh narasi pesimis, mereka butuh keberpihakan. Negara hadir memastikan mereka belajar dengan perut kenyang, itu tanda negara serius menjaga masa depan Indonesia,” tuturnya.
Kesimpulan
Pernyataan Gus Imam Susanto menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar inisiatif sosial, melainkan sebuah strategi pembangunan manusia yang integral untuk membangun generasi emas Indonesia. Melalui sinergi berbagai sektor dan data yang valid, program ini diharapkan mampu menjadi contoh nyata komitmen bangsa dalam menciptakan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan kompetitif secara global.
[Red]
Posting Komentar