Indonesia Menghadapi Krisis atau Akan Terjadi Revolusi?
Oleh: Saiful Huda Ems.
Tidak ada panas, tidak ada hujan, Panglima TNI Agus Subiyanto tiba-tiba mengeluarkan telegram, yang memerintahkan seluruh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk meningkatkan kesiapsiagaan ke tingkat Siaga 1.
Melalui telegram itu pula Panglima TNI juga memerintahkan beberapa langkah yang antara lain:
• Peningkatan patroli di bandara, pelabuhan, stasiun, dan terminal.
• Pemantauan udara 24 jam oleh Komando Pertahanan Udara Nasional.
• Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI memantau kondisi WNI di wilayah konflik dan menyiapkan rencana evakuasi jika diperlukan.
Langkah ini disebutnya sebagai antisipasi dampak konflik di Timur Tengah, terhadap keamanan nasional serta keselamatan WNI di luar negeri.
Kita sebagai rakyat kemudian bertanya-tanya, ada apa ini? Yang perang itu Iran melawan Israel dan Amerika, medan perangnya juga sangat jauh dari Indonesia, namun mengapa Panglima TNI menjadi super sibuk dan mengeluarkan telegram untuk Siaga 1 segala?
Selain itu di media sosial juga beredar video viral yang memperlihatkan konvoi kendaraan militer di jalanan, namun hingga saat ini, pihak TNI belum memberikan penjelasan resmi terkait video konvoi yang viral di media sosial tsb.
Rakyat tentu berhak curiga, jangan-jangan Siaga 1 ini bukan untuk mengantisipasi dampak dari Perang Iran vs Israel dan Amerika di Timur Tengah, melainkan ada suatu persoalan di dalam negeri Indonesia yang dirahasiakan.
Sebelumnya Menteri Bahlil Lahadalia telah menyatakan, bahwa Pemerintah hanya siap menyediakan BBM untuk 20 hari mendatang, sedangkan setelah itu Pemerintah seperti tidak mengerti apa-apa, bagaimana mengantisipasi ketiadaan BBM setelah 20 hari mendatang, atau setelah Hari Raya Idul Fitri.
Kita semua telah tahu persoalan kelangkaan BBM akan berbuntut panjang pada perekonomian dan perdagangan. Kalau BBM langka, maka harga BBM yang tinggal sedikit --jika masih ada-- harganya akan menjadi mahal. Kalau harga BBM mahal, maka harga-harga barang, khususnya kebutuhan pokok rakyat akan meroket.
Di situasi seperti itu, rakyat akan menjerit, sebab krisis BBM akan segera menjalar pula menjadi krisis pangan. Di sisi lain, apabila kegiatan perekonomian dan perdagangan terhenti, maka uangpun akan menjadi langka. Maka selain Indonesia akan memasuki krisis BBM, akan terjadi pula krisis pangan dan krisis keuangan, yang akan berujung pada krisis kepercayaan Rakyat pada Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Lalu apa yang kemudian terjadi? Rakyat akan turun ke jalan, melakukan protes pada Pemerintahan Prabowo-Gibran di seluruh penjuru Tanah air. Jika aksi turun ke jalan ini tidak terkendali, maka akan segera muncullah pergerakan anarki. Disitulah Revolusi Sosial itu dimulai dan para pejabat negara akan segera lari meninggalkan negeri.
Oleh karena itu, sekalian untuk menjawab tantangan Sufmi Dasco, dimana kita katanya tidak boleh hanya bisa mengkritik pemerintah, melainkan pula harus memberikan solusinya, saya akan mencoba untuk turut memberikan sedikit pandangan sebagai jalan keluar (solusi), agar rakyat tidak murka pada Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pertama, Presiden Prabowo Subianto harus segera mereshuffle kabinetnya. Menteri-menteri yang tidak becus bekerja dan tidak dipercaya rakyat lagi, harus segera digunting alias diganti. Siapa penggantinya? Ya tentunya orang-orang yang ahli di bidangnya dan relatif bersih dari persoalan hukum.
Ada banyak tokoh publik yang bisa dijadikan alternatif untuk pergantian menteri itu, misalnya saja Haidar Alwi. Haidar Alwi ini bisa diangkat menjadi Menteri ESDM menggantikan Bahlil Lahadalia. Sebagaimana publik ketahui, Haidar Alwi merupakan fisikawan alumnus ITB dan Amerika. Beliau selama ini aktif di bisnis tambang dan mengetahui banyak potensi sumber daya alam Nusantara.
Haidar Alwi beberapa kali pernah menjelaskan, bahwa Negara Indonesia sebenarnya merupakan negara terkaya di dunia, olehnya kalau hanya soal melunasi hutang luar negeri pemerintah kita, baginya sangat mudah sekali. Contohnya, 1/3 mineral bumi itu menurutnya ada di Indonesia. Ada tambang emas 2 miliar ton di satu kecamatan di Dompu NTB. Nilainya sekitar Rp. 1,8 juta triuliun. Lalu di Maluku --masih menurut Haidar Alwi--ada minyak gas yang jauh lebih banyak dari yang ada di Jazirah Arab.
Itulah beberapa hal yang bisa dijelaskan dari Haidar Alwi mengenai potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia. Meski apa yang dikatakannya belum tentu terbukti, namun paling tidak itu dapat menjadi semacam satu celah harapan, bagi Indonesia untuk dapat segera keluar dari krisis ekonomi, keuangan dan pangan yang akan segera terjadi. Daripada seperti sekarang, para menteri seperti tidak memiliki langkah antisipasi apa-apa untuk keluar dari krisis.
Kedua, Pemerintah harus benar-benar bisa melakukan efisiensi anggaran. Karena itu Menteri dan Wamen yang terlalu banyak (oversize cabinet) harus segera dirampingkan, alias yang tidak terlalu penting dan mendesak dibuang. Program-program yang terlalu menguras anggaran dan unfaedah, seperti MBG harus segera dihentikan.
Ketiga, keikut sertaan Indonesia sebagai member Board of Peace (BoP) yang terbukti tidak berguna untuk perdamaian di Gaza, bahkan inisiatornya (Donald Trump) malah terbukti menyulut terjadinya perang di Timur Tengah, harus segera ditinjau kembali dan sebisa mungkin segera keluar dari keanggotaannya. Karena BoP selain sudah tidak berguna dan malah memperkuat negara imperialis, juga menghabis-habiskan uang !.
Bila solusi yang saya ajukan ini direspon dengan baik oleh Presiden Prabowo Subianto, saya ucapkan terimakasih. Namun bila ditolak, ya silahkan saja hadapi revolusi sosial, amuk massa yang akan segera terjadi. Sapere aude !...(SHE).
Senin, 9 Maret 2026.
Saiful Huda Ems (SHE).
Posting Komentar