Dugaan Penyimpangan Anggaran Study Tour SMAN 14 Tangerang: Biaya Rp900 Ribu per Siswa, Menginap di Hotel Bintang Empat
TRANSFORMASINUSA.COM | TANGERANG — Kegiatan studi wisata atau study tour yang digelar SMAN 14 Tangerang, yang beralamat di Kampung Darus Salam, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Banten, menuai sorotan dan dugaan penyimpangan anggaran. Kegiatan yang diikuti sekitar 400 siswa ini dikabarkan menggunakan dana partisipasi sebesar Rp900.000 per peserta dengan tujuan utama wilayah Serang dan Kawasan Adat Baduy, Kabupaten Lebak, Banten.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media dari kalangan internal sekolah dan warga sekitar, kegiatan yang seharusnya bernilai edukasi budaya dan kearifan lokal ini menimbulkan pertanyaan publik terkait penggunaan dana yang dikumpulkan. Pasalnya, dengan total peserta mencapai 400 siswa, nilai akumulasi dana yang terkumpul mencapai ratusan juta rupiah.
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah akomodasi selama kegiatan berlangsung. Meskipun tujuan utamanya adalah mempelajari adat istiadat, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Baduy yang hidup sederhana, para siswa justru diinapkan di Hotel Horison Serang, yang merupakan penginapan berbintang empat dengan fasilitas mewah.
Adanya kesenjangan antara tujuan pembelajaran budaya sederhana dengan fasilitas penginapan yang berbiaya tinggi ini memicu munculnya dugaan korupsi atau penyalahgunaan anggaran kegiatan. Masyarakat dan sejumlah orang tua siswa mempertanyakan rincian alokasi dana sebesar Rp900 ribu per siswa tersebut dan meminta transparansi laporan keuangan.
Dalam struktur penyelenggaraan kegiatan ini, disebutkan nama-nama pejabat sekolah yang bertanggung jawab, antara lain Ade Gunawan selaku Kepala Sekolah, dan Hendra Gymnastic selaku Wakil Kepala Sekolah. Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh penjelasan resmi maupun rincian anggaran terperinci dari pihak manajemen sekolah terkait penggunaan dana yang telah dikumpulkan dari para siswa.
Selain kegiatan kunjungan budaya, rencana kegiatan siswa yang tidak mengikuti perjalanan utama diarahkan untuk melakukan penelitian lapangan mandiri. Tugas tersebut meliputi pencarian desa-desa yang memiliki kemiripan nilai adat dan kearifan lokal seperti Baduy, serta melakukan kunjungan ke tiga perguruan tinggi. Di kampus-kampus tersebut, siswa diminta mengumpulkan data lengkap mulai dari jumlah fakultas, daftar jurusan, keunggulan masing-masing program studi, hingga rincian Uang Kuliah Tunggal (UKT), lengkap dengan dokumentasi foto dan wawancara.
Tugas hasil penelitian lapangan tersebut rencananya akan ditulis tangan di kertas folio, dikumpulkan lengkap dengan rekaman video dalam flashdisk pada tanggal 21 Mei 2026, dan nilainya akan dimasukkan ke dalam rapor semester genap.
Menanggapi isu yang berkembang, publik berharap adanya penjelasan rinci dan transparan dari pihak sekolah maupun dinas terkait. Hal ini penting agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut serta menjamin bahwa uang yang dibayarkan siswa digunakan secara wajar, efisien, dan sesuai tujuan pendidikan.
Hingga saat ini, awak media masih berupaya mengkonfirmasi langsung kepada Kepala Sekolah maupun Wakil Kepala Sekolah untuk mendapatkan tanggapan dan klarifikasi resmi terkait dugaan penyimpangan dan rincian anggaran tersebut. Berita ini akan dikembangkan lebih lanjut setelah adanya tanggapan dari pihak terkait.
Pewarta: -
Zainal Abidin,.S.Kom,.C.Med
Pimpinan Redaksi Media TNC Group

Posting Komentar